Selasa, 06 Agustus 2013

Mencari Pendekar Cisadane


Pemilihan walikota tangerang tahun ini nampak sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Nampak tokoh-tokoh baru kota tangerang kian bermunculan untuk memajukan kota tangerang. Dibandingkan tahun sebelumnya yang lebih banyak di dominasi oleh pemain-pemain lama dan membuat pemilihan walikota tangerang seolah hanya sekedar formalitas untuk mempertahankan rezim yang selama ini bertahan. Tidak berpartisinya Drs. H. Wahidin Halim M.Si pada pilwalkot 2013 ini membuat warna baru pada pemilihan walikota  kota tangerang, munculnya nama-nama yang pernah menjadi bagian pemerintahan dan keluarga Wahidin, mewarnai gegap gempita pilwalkot kota tangerang. Hal ini menjadi satu hal yang menarik untuk di bahas karena dari kasat mata kita mampu melihat bahwa semua peserta kampanye pilwalkot kali ini sama-sama mempunyai  kesempatan yang sama untuk menajadi Tangerang satu.


POTENSI KOTA TANGERANG
Kota tangerang yang terdiri dari 13 kecamaran dan di bagi lagi atas 104 kelurahan merupakan wilayah yang merupakan bagian dari tiga wilayah tangerang, yakni kabupaten tangerang dan tangerang selatan. Tangerang merupakan kota terbesar ketiga di banten dan merupakan kawasan ketiga terbesar di Jabodetabek setelah kota jakarta. Melihat dari persfektif wilayah tangerang merupakan kawasan salah satu kawasan terluas di indonesia, dengan menempati urutan ke- 39 di indonesia.  Kota yang merayakan hari jadinya pada tanggal 28 februari  1993 merupakan kota terkenal dengan kota 1000 pabrik. Hal ini dikarenakan tangerang merupakan pusat manufaktur dan industri di pulau jawa.
Ibu kota provinsi banten yang mempunyai luas wilayah 164.54 km2 merupakan pusat transportasi jika kita melihat terletaknya bandara internasional soekarno hatta dan jalur menuju pelabuhan merak bakauheni yang merupakan salah satu pelabuhan yang menghubungkan antara pulau jawa dan sumatera. Jika kita melihat bagaimana pembangunan mall dan sekolah yang ada di kota tangerang senantiasa mengalami perumbuhan yang cukup significan. Hal ini merupakan potensi yang dimiliki kota tangerang.

DEMOGRAFI
Bicara tentang demografi tangerang mempunyai sejarah panjang dengan suku Tionghoa yang sudah mulai menempati wilayah tangerang semenjak abad ke 18 dan 19, dengan demikian tidak heran jika suku Tionghoa tangerang mempunyai jumlah yang cukup signifikan. Namun, satu hal yang menarik ternyata dengan jumlah Tionghoa yang cukup signifikan tersebut ternyata tidak satupun dari mereka yang lancar berbahasa mandarin. Jadi wajar ketika banyak kuburan cina di kawasan tangerang karena mereka merupakan komunitas yang sudah semenjak lama di kota tangerang dan memang sampai saat ini rata-rata penjual yang berada di wilayah kota tangerang merupakan penduduk keturunan Tionghoa.

PENDUDUKAN 
Dengan luas wilayah yang menempati salah satu wilayah yang cukup luas di indonesia tangerang yang memiliki jumlah penduduk 1.847.341 menurut data statistik 2011. Dengan rasio jenis kelamin sebesar 104,98 artinya setiap 100 penduduk perempuan terdapat 104,98 penduduk laki-laki. Sedangkan komposisinya masih sama seperti tahun sebelumnya didominasi oleh penduduk usia produktif dengan rasio beban ketergantungan sebesar 40,28 atau setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) menanggung 40,28 penduduk usia non produktif.
Sebagai daerah penyangga Ibu kota Negara, Kota Tangerang dikatakan daerah cukup padat, setiap Kilometer persegi dihuni oleh 11.227 jiwa di mana Kecamatan Larangan merupakan Kecamatan terpadat dengan penghuni 17.966 jiwa untuk setiap kilometer perseginya, dan Kecamatan Neglasari merupakan kecamatan yang paling tidak padat dengan penghuni sebanyak 6.566 jiwa untuk setiap kilometer perseginya.

KETENAGAKERJAAN
Ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator penting pembangunan ekonomi khususnya dalam upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Hal ini karena tenaga kerja adalah modal bagi geraknya pembangunan. Masalah penyediaan lapangan kerja menjadi masalah yang cukup serius di Kota Tangerang, kesenjangan antara jumlah pencari kerja dan lowongan yang tersedia semakin jauh dari tahun ke tahun. Menurut data Disnaker Kota Tangerang jumlah lowongan kerja yang terdaftar sampai bulan Desember 2011 tercatat sebanyak 12.738 lowongan sementara pencari kerja yang mendaftar sebanyak 41.815 orang. Seperti tahun sebelumnya pencari kerja ini masih didominasi tamatan SLTA sebanyak 36.924 orang.

EVALUASI PENDUDUK dan KETENAGAKERJAAN KOTA TANGERANG 
Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2012, banyaknya Penduduk Usia Kerja (PUK) adalah 1.372.744 orang, atau meningkat sekitar 2,10% dari tahun 2011. Banyaknya penduduk usia kerja tahun 2011 adalah 1.344.549 orang. penduduk usia kerja paling banyak pada kelompok umur 25-54 tahun yang mencapai 901.702 orang (65,69%), diikuti oleh kelompok umur 15-24 tahun (25,17%) dan kelompok umur 55 tahun keatas (9,14%).

Kegiatan dibagi atas 5 (lima) jenis kegiatan yaitu: bekerja, pengangguran, sekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya. Penduduk usia kerja berdasarkan jenis kegiatan terbanyak di Kota Tangerang pada tahun 2012 adalah yang bekerja, sejumlah 841.994 orang (61,34%). Kemudian diikuti dengan penduduk usia kerja yang mengurus rumah tangga sebanyak 245.004 orang (17,85%), yang bersekolah 125.407 orang (9,14%), melakukan kegiatan lainnya sebanyak 84.296 orang (6,14%), sedangkan yang menjadi penggangguran sebanyak 76.043 orang (5,54%).

Meskipun penduduk usia kerja di Kota Tangerang pada tahun 2012 meningkat, namun secara persentase menunjukkan angka angkatan kerja yang menurun. Pada tahun ini angkatan kerja sebesar 66,88 persen, dan tahun 2011 mencapai 70,31 persen. Dengan komposisi angkatan kerja laki-laki mencapai 83,77 persen dan perempuan mencapai 50,22 persen. Sebaliknya penduduk yang bukan angkatan kerja meningkat menjadi 33,12 persen dibanding tahun 2011 sebesar 29,69 persen. 

Besarnya TPAK Kota Tangerang tahun 2012 adalah 66,88 persen. Tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki dalam aktifitas ekonomi lebih tinggi dari perempuan. Hal ini wajar terjadi karena laki-laki sebagai tulang punggung keluarga, berkewajiban mencari nafkah. Sedangkan untuk penduduk perempuan, kategori bukan angkatan kerja nya lebih tinggi dari laki-laki. Kegiatan yang dilakukan penduduk bukan angkatan kerja adalah mengurus rumah tangga, sekolah dan kegiatan lainnya. 

Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) pada tahun 2012 sebesar 91,72 persen. Angka ini lebih tinggi dari tahun 2011 yang mencapai 87,11 persen. Namun secara persentase menunjukkan TKK untuk penduduk perempuan sedikit lebih tinggi dari penduduk laki-laki Hal ini berarti setiap 100 penduduk Kota Tangerang berumur 15 tahun keatas yang termasuk angkatan kerja, terdapat 92 orang yang bekerja dan 8 orang pengangguran, namun berdasarkan jenis kelamin tingkat kesempatan kerja untuk perempuan sedikit lebih banyak. Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun 2012 adalah 8,28 persen. Dapat diartikan pada setiap 100 orang penduduk Kota Tangerang yang termasuk angkatan kerja, delapan orang diantaranya adalah pengangguran terbuka dan 92 orang lainnya adalah pendudukyang sudah bekerja. Nilai TPT tahun ini jauh lebih baik dari tahun 2011 yang mencapai 12,89 persen. Terjadi pengurangan pengangguran sebesar 60,20 persen dari tahun 2011.

PROFIL PEMIMPIN IDEAL KOTA TANGERANG
Melihat potensi tangerang yang sangat besar dan bertumpu kepada potensi dasar kota tangerang sebagai pusat manufaktur dan memiliki pabrik lebih dari 1000 pabrik. Tenaga kerja merupakan isu yang tampaknya akan sangat memungkinkan untuk di angkat pada pemilihan walikota saat ini. Banyak wajah baru bermunculan pada pemilihan walikota tangerang tahun ini diharapkan mampu membawa kota tangerang menjadi lebih baik. Dengan beberapa evaluasi pendataan yang ada harapannya masalah tenaga kerja, kependudukan dan kesejahteraanya menjadi titik tekan yang seharusnya mampu dilakukan oleh para kandidat calon pemimpin baru kota benteng ini. Artinya pembukaan lapangan kerja yang akan menjadikan pertumbuhan ekonomi di kota tangerang kian semakin pesat. Banyak sebenarnya wilayah potensi untuk membuka lapangan kerja yang belum di manfaatkan secara maksimal, seperti pemanfaatan sungai cisadane dan wilayah sekitar sungai. Hal ini seharusnya mampu menjadi perhatian para kandidiat, karena sebenarnya jika tangerang mampu memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi alternatif akan banyak perubahan yang mamapu di capai dari berbagai sisi, bahkan bisa dijadikan proyek percontohan kota-kota lain di indonesia, tentunya hal tersebut akan membuka lapangan perkerjaan baru, walaupun nantinya pemerintah harus mamapu memindahkan warga yang tinggal di sekitar sungai ketempat yang lebih baik. Paling tidak hal ini kia bisa belajar dari kota tetangga yang siap menyediakan rusun untuk kemudian wilayahnya mampu di manfaatkan secara maksimal.
(sumber data: litbang kota tangerang, wikipedia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar