Dalam hitungan hari Kota
Tangerang akan segera mengadakan pemilihan walikota baru tepatnya pada tanggal
31 agustus mendatang. Harapan besar datang masyarakat kota tangerang akan
mempunyai pemimpin yang akan membawa Kota Tangerang menjadi lebih baik dan mampu
memanfaatkan semua potensi yang ada di Kota Tangerang. Kota Tangerang yang
memiliki banyak potensi sampai saat ini belum mampu dimanfaatkan secara
maksimal. Hal ini menjadi sebuah tugas besar pemimpin Kota Tangerang
selanjutnya. Untuk itu semua keinginan untuk membangun Kota Tangerang
seharusnya mampu dimulai dengan calon pemimpin yang melakukan kampanye dengan
tujuan mencerdaskan masyarakat.
Kampanye pilkada Kota Tangerang
tahun ini memang nampaknya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ketika Wahidin
Halim tidak dapat mencalonkan diri kembali pada pilkada tahun ini. Sebenarnya
ini adalah sebuah kesempaan emas bagi para calon pemimpin Kota Tangerang untuk
dapat mengeksplorasi kemampuan dan strategi mereka dalam melakukan kampanye. Kreatifitas
para calon seharusnya mampu diperlihatkan ketika masa kampanye, bukan hanya
melakukan kampanye dengan cara-cara kuno yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
Metode dan gaya para calon berkampanye akan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan Kota Tangerang kedepan, karena dari cara mereka berkampanyelah
tergambar sikap dan prilaku calon dalam memimpin. Hakikat kampanye bukan hanya
menjadi ajang sosialisasi dan pemaparan visi misi melainkan sebagai ajang pencerdasan
masyarakat dalam berdemokrasi dan melek politik.
Perkembangan zaman seharusnya mampu
membuat para calon pemimpin Kota Tangerang mempunyai inovasi dalam menarik
perhatian masayarakat, tentunya dengan tujuan masayarakat akan mampu menjadi
masyarakat yang melek politik. Bukan malah mengajarkan masyarakat buta akan
politik bahkan terkesan tidak peduli dengan pemilihan pemimpin baru Kota
Tangerang. Masyarakat seharusnya diajarkan untuk menjadi pemilih cerdas bukan
hanya dibentuk menjadi pemilih pragmatis “siapa
yang memberikan uang itu yang saya coblos” kemudian “berpa besar dullu uangnya” tergantung mereka yang
memberikan uang paling besar. Doktrinasi akan politik uang merupakan musuh
besar, dan haram hukumnya dalam kampanye. Dari kampanyelah sebenarnya dapat
kita lihat bagaimana karakteristik pemimpin yang akan memimpin Kota Tangerang.
Kehadiran lima calon Walikota dan
wakil walikota pada pilkada Kota Tangerang tahun ini merupakan sebuah pesta
demokrasi bagi masayarakat Kota Tangerang. Kehadiran berbagai latar belakang
calon pun mewarnai hiruk pikuk pilkada Kota Tangerang tahun ini. Harapan baru
seharusnya muncul dari para calon kandidat pemimpin Kota Tangerang dengan gaya
kampanye cerdas dan elegan dari masing-masing calon. Namun, amat disayangkan
hal tersebut tidak terjadi pada kampanye pilkada Kota Tangerang tahun ini.
Secara garis besar sudah bisa dipastikan seminggu lalu Kota Tangerang seolah
menjadi Kota yang amat berantakkan ketika setiap kampanye terbuka terjadi
kemacetan dimana-mana. Disamping itu sampah yang berserakkan pra kampanye
terbuka dan dan pasca kampanye terbuka pun terlihat jelas. Ditambah ketertiban
akan keselamatan jalan raya kian diabaikan. Ironi memang calon-calon yang
rata-rata berasal dari srata pendidikan tinggi tidak dapat mengajarkan etika
kepada para timsuksesnya.
Jika kita coba membahas bagaimana
cara dan gaya kampanye masing-masing calon menjadi sebuah koreksi besar bagi
Kota Tangerang. Hal tersebut terlihat jelas pembodohan terhadap pendidikan
politik terjadi pada pilkada Kota Tangerang kali ini. Masing-masing calon tidak
satupun mengajarkan bagaimana membuka mata masayarakat untuk mampu menjadi masyarakat
yang melek akan politik. Kehadiran lulusan Amerika dan seorang Doktor pun tidak
mampu memberikan warna baru pada kampanye Kota Tangerang. Seharusnya mereka
yang mempunyai latar belakang pendidikan jauh lebih baik mampu memberikan
sebuah inovasi dalam kampanye tahun ini, agar masyarakat Kota Tangerang
terbebas dari tren pengkultusan.
Janji-janji palsu pun terucap
manis dalam berbagai kampanye yang dilakukan demi mendapatkan simpati
masyarakat. Janji yang sebenarnya tidak mampu ditepati namun diobral untuk
memberikan harapan palsu bagi masyarakat. Jejak rekam yang berkasus pun seolah
tidak menjadi sebuah aib an membuat malu maju dalam pemilihan pemimpin daerah
yang mempunyai tagline “Kota Akhlakul
Karimah” . Gambaran yang terlihat jelas pada pemilihan pemimpin Kota
tangerang Tahun ini yang banyak terjadi kecacatan didalamnya. Sebuah hal yang
memalukan jika seorang terduga kasus korupsi dan kerugian amat sangat besar bagi lembaga daerahan masih diperbolehkan
untuk bertarung dalam pilkada Kota Tangerang.
Disamping itu membawa nama besar
dari masing-masing personalpun menjadi tren pada pilkada Kota Tangerang kali
ini. Seolah para calon tidak mempunyai kekuatan secara pribadi untuk mampu
menjual dirinya pada masyarakat. Popularitas tokoh seolah menjadi senjata utama
mereka, mungkin mereka berfikir bahwa dengan mambawa nama tokoh tersebut akan
mampu mendulang suara yang significan. Kampanye yang tidak bertema membuat
masyarakat Kota Tangerang semakin jenuh dengan pesta demokrasi yang dilakukan
semacam ini. Belum lagi dengan berbagai black
campaign yang mengajarkan masyarakat
menjadi semakin buta akan demokrasi. Berbagai claim pun datang terhadap
prestasi-prestasi Kota Tangerang yang seolah tidak ada cara lain untuk mampu
menunjukkan bahwa para calon memberikan kontribusi konkrit untuk masyarakat.
Jika kita berkaca pada kampanye
Kota Bandung kita dapat melihat bahwa ada sebuah pembelajaran politik di dalam
kampanye yang disampaikan. Masyarakat bukan hanya diambil suaranya namun
masyarakat juga diajarkan utnuk menjadi seorang yang cerdas. Masyarakat
diajarkan menjadi masyarakat yang peduli bahwa pemilihan pemimpin daerah adalah
sesuatu yang penting utnuk nasib masa depan wilayah tersebut. Penurunan angka
golput pun seharusnya menjadi PR para partisipan kampanye. Bukan malah
menaikkan angka golput karena kejenuhan masyarakat akan gaya kampanye yang
tidak kreatif. Hakikat sebuah pemilihan kepala daerah adalah untuk mampu
menyadarkan masyarakat bahwa dalam kondisi terburuk yang terjadi saat ini masih
ada sebuah harapan besar kita mamapu memeperbaiki daerah kita, masih ada mereka
yang peduli akan masa depan kota yang mereka cintai. Pilkada adalah ajang
pencerdasan politik bagi masayrakat menjadi sebuah parameter keberhasilan
sebuah wilayah kedepan.
Salam Cinta untuk Indonesia
Cinta Indonesia, Cinta Banten,
Cinta Kota Tangerang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar